Langsung ke konten utama

Tugas Observasi First Teacher Bootcamp: Menumbuhkan Fitrah Keimanan Pada Anak Usia Dini

 Bismillahirohmanirohim


Background Webinar Home Education
.

Mengutip dari judul sebuah buku yaitu "Rumahku Sekolah Terbaikku" yang ditulis oleh Nur Sillaturohmah.H, Lc. Dikatakan beliau dalam buku tersebut adalah Peran orang tua sebagai penjaga amanah fitrah bagi putra dan putrinya. Yang mana dalam hal ini orang tua bertanggung jawab atas amanah yang Allah SWT titipkan kepada kita. Tentunya itu semua disertai dengan doa, harapan dan dengan usaha. Karena berdoa tanpa usaha adalah kesia-siaan dan usaha tanpa disertai doa adalah kesombongan.

Setelah mengikuti webinar bersama First Teacher Bootcamp yang bertajuk Mengenal Home Education bersama Bunda Roro Dwi, saya mengenal Fitrah Based Education. Ada 8 aspek fitrah dalam setiap manusia yang harus tumbuh dan terawat dengan baik. Yang sesuai dengan tahap fitrah perkembangannya. 8 aspek fitrah tersebut adalah:

1. Fitrah Keimanan

2. Fitrah Belajar dan Bernalar

3. Fitrah Bakat

4. Fitrah Estetika dan Bahasa

5. Fitrah Seksualitas

6. Fitrah Individualitas dan Sosialitas

7. Fitrah Perkembangan

8. Fitrah Kesehatan dan Jasmani

Dalam menjalankan tugas observasi dari penyelengara FTB kali ini, alhamdullilah saya mulai mengamati kegiatan buah hati kami yaitu Aisha yang saat ini berusia 5,5 tahun. Setiap saya bangun pagi ia juga ikut bangun pagi dengan begitu secara otomatis kami bersama-sama membaca doa bangun tidur. Ketika saya hendak berwudhu ia pun mulai ikut mengambil mukenanya sendiri, namun belum mau untuk berwudhu, "dingin ma" katanya. Namun tetap ayahnya jelaskan bahwa jika hendak solat diwajibkan untuk berwudhu agar bersih dari hadas. Semoga pada observasi selanjutnya Aisha ingin berwudhu dengan keiginannya sendiri tanpa diperintah oleh orangtuanya.

Aktivitas saya juga adalah anggota Majelis Taklim Masjid di dekat rumah kami, Aisha senang ketika saya ajak untuk ikut kegiatan kami. Ia paling senang ketika mendengar kami (ibu-ibu pengajian) bersholawat. Yang paling sering dalam ingatannya adalah solawat malaikat Jibril, sesekali ia bersolawat di rumah "Allahumma shalli 'alaa sayyidinaa muhammad wa'alaa aali sayyidinaa muhammad wasallim tasliima". Kami juga ikut senang mendengarnya "Masha Allah" dalam hati saya tenyata Aisha merekam apa yang ia lihat dan dengar apapun yang ada disekitarnya. Kami sebagai orang tua juga harus lebih berhati-hati ketika berucap atau berperilaku.

Aisha ketika mengikuti kegiatan kami pengajian.

Solat Aisha juga masih bolong-bolong namun terus kami ajak setiap tiap waktu solat tiba, ketika ia tidak ingin solat ada saja alasannya. Dan akhirnya saya pun menyerah untuk merayunya kembali. hanya ayahnya yang bisa memahami dan Aisha pun lebih mudah menurut kepada beliau. Ketika solat berjamaah di masjid setiap kamis malam sekaligus kegiatan yasinan rutin di masjid dekat rumah kami Aisha selalu ingin ikut, ia menyebutnya dengan sebutan "Ma, Aisha ikut teraweh yah?" begitu katanya. karena ramadan lalu perdana ia kami aja taraweh di masjid mengingat ia sudah cukup mandiri dan dapat diinstruksi agar tertib jika berada di area masjid/tempat ibadah. 

Aisha solat berjamaah di Masjid

Masha Allah, semoga Allah senantiasa memberikan kami hidayah dan kekuatan serta kesabaran dalam membimbing amanah yang istimewa yaitu Aisha anak kami. Kami yakin semain bertambahnya usia Aisha semakin berat juga tantangan di depan, maka dari itu dari awal kami harus membekalinya dengan iman dan nilai-nilai Islam. Setelaha mendengar penceraahan dari Bunda Roro Dwi kami semakin aware terhadap setiap fase perkembangan anak-anak usia dini terutama anak kami, namun tetap dengan metode memberi pemahaman sambil bermain dan komitmen keluarga kami jaga serta konsisten. Insya Allah. 

Harapan kami observasi ini dapat berlanjut bukan hanya pada tugas dalam mengikuti kegiatan di FTB kali ini. Karena pendidikan yang pertama dan utama sejatinya ada di rumah bagi kami. Sekian observasi beberapa hari ini kepada ananda kami Aisha, semoga bermanfaat.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aliran Rasa

Aliran Rasa - Kompas Peradaban Naikkan jangkar ! Bentangkan layar ! Bahtera akan segera berlayar. Teringat aba-aba semangat dari bunda Nani Nurhasanah (Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PPM) Institut Ibu Profesional  www.ibuprofesional.com , untuk bersiap meninggalkan pelabuhan, memulai penjelajahan menuju bahtera matrikulasi Komunitas Insititut Ibu Profesional (IIP). Penjelajahan untuk petualangan dan pembelajaran di komunitas Institut Ibu Profesional, sebelum memulainya di Pelabuhan Matrikulasi mahasiswi di komunitas IIP diberikan tiket dan paspor yang mana akan digunakan setiap menjalan misi yang di bahtera matrikulasi batch 8 ini. Setelah tiket dan paspor di dapat, saya pun mendapatkan bekal pertama dari Komunitas Institut Ibu Profesional. Bekal ini akan saya gunakan untuk menemukan Kompas Peradaban. Saya semakin penasaran dengan penjelajahan ini. Kompas akan ditemukan dengan membuka kerang terlebih dahulu kemudian mengambil mutiara...

Pencarian Makna

Penjelajahan samudera Matrikulasi batch #8 Institut Ibu Profesional www.ibuprofesional.com  telah sampai tahap menyelami samudera. Misi kali ini adalah "Misi Pencarian Makna" Seperti apakah misi kali ini? penasaran sudah pasti saya rasakan, karena para Widyaiswara selalu memberikan kejutan-kejutan dalam setiap misi penjelajahan. Penyelaman pertama ini dibantu oleh para WI dengan pendapat-pendapat yang menginspirasi dan komentar-komentar hebat para mahasiswi di FBG Matrikulasi batch #8. Dan, munculah Makna "Ibu Profesional Kebanggan Keluarga" versi terbaik saya... Ibu Profesional kebanggaan keluarga ibarat Madrasah/Sekolah. Tempat dimana anggota keluarga berkumpul, bercerita, bermain, bekerja sama dalam proses belajar dan mendidik dalam kehidupan sehari-hari dengan penuh keikhlasan dan kasih sayang mengharap keberkahan dan ridho dari Allah SWT. Mengutip kata-kata Ustadz Salim A Fillah "Ibu adalah madrasah cantik, tempat anak-anak mempertanyakan alam ...